Tuesday, June 30, 2015

HIKMAH DIBALIK PENCIPTAAN LALAT


Kecerdikan yang mengagumkan dimiliki oleh bebeapa hewan, seperti serigala, lalat, dan laba-laba. Serigala, ketika lapar dan tidak mendapatkan seekor mangsa, dia berpura-pura mati. Dia menggembungkan perutnya sehingga burung mengiranya mati lalu turun untuk memakan bangkainya. Saat itulah ia menerkam.

Kecerdasan yang menakjubkan juga ada pada lalat yang besar yang dinamai singa lalat. Anda lihat, ketika dia merasa ada lalat didekatnya, dia diam tak bergerak seakan-akan ia telah mati. Apabila lalat tadi dilihatnya telah tenang dan tidak mewaspadainya, dia merayap sangat hati-hati sampai berada pada posisi dia bisa menjangkaunya, lalu dia melompat dan menyergapnya.

Image result for gambar lalatPerhatikan pula kecanggihan tipu daya laba-laba, dia membuat jaring sebagai perangkap mangsanya, dan dia bersembunyi di tengahnya. Apabila ada nyamuk dan lalat yang terjerat, dia melompat dan menghisap darahnya. Hewan ini memakai cara berburu dengan jaring dan perangkap, sedang yang pertama (singa lalat) mengikuti cara berburu anjng dan macan.

Janganlah anda meremehkan pelajaran dari sesuatu yang remeh, semisal biji sawi dan nyamuk. Sebabnya, suatu makna yang berharga dapay diambil dari sesuatu yang remeh. Meremehkan pelajaran dari sesuatu yang hina adalah warisan dari orang-orang yang akalnya tidak bisa menerima kenapa Allah Swt membuat perumpamaan dengan lalat, laba2, anjing, keledai, sehingga Allah Swt menurunkan firman Nya pada surat Al-Baqarah, 2: 26.

Alangkah banyak hikmah yang terkandung pada diri hewan2 yang bisa jadi anda remehkan dan anda hinakan ini. Berapa banyak dalil yang terkandung didalamnya yang menyatakan tentang sang pencipta, juga mengenai kasih sayang dan hikmah Nya. Tanyakanlah kepada orang2 yang ingkar, siapa yang mengilhami hewan2 itu untuk membuat tipu daya, dan bertindak secara mengagumkan untuk menangkap mangsa yang menjadi makannya??? Siapa yang memberinya kecerdikan ini sebagai ganti dari kekuatan dan kemampuan yang tidak dipunyainya, sehingga dengan kecerdikan itu, dia dapat hidup meski tak memiliki kekuatan??? Tiada yang melakukannya, selain Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pemberitahu.

Bahkan pada satu riwayat dikatakan.....

Dari Tariq bin Syihab Ra, Rasulullah Saw bersabda, " Ada seorang laki2 yang masuk surga gara2 seekor lalat dan adapula lelaki lain yang masuk neraka gara2 seekor lalat." Para sahabat bertanya, Bagaimana hal itu bisa terjadi, Wahai Rasulullah???Beliau menjawab, 'Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Merekapun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, Berkorbanlah, Maka dia menjawab, Aku tidak punya apa2 untuk dikorbankan. Merekapun mengatakan, Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat. Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah dia masuk neraka. Mereka pun mengatakan kepada orang yang satunya. Berkorbanlah. Dia menjawab, Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Swt. Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga."

Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw. bersabda, "Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian, hendaklah ia menenggelamkannya ke dalam minuman tersebut, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya." (HR AL-Bukhari)

Penjelasan ini dikuatkan oleh hadits lain...

Dari Abu Sa'id Al-Khudri, Rasulullah Saw. bersabda, "Pada salah satu sayap lalat itu mengandung racun dan yang satunya lagi mengandung obat. Karena itu, apabila dia jatuh pada makanan, maka benamkanlah ia kedalamnya karena sesungguhnya ia jatuh mendahulukan racun dan mengakhirkan penawarnya," (HR Ibnu Majah).(Abu Anas Majid, Sahihu At-Tibbi An-Nabawi fi Daw'i'l Kitabi wa As-Sunnati wa Aqwali As-Salafi,tt:119)

Begitulah kiranya Allah menjelaskan segala sesuatu, yang dikuatkan lagi penjelannya oleh nabi Muhammad saw melaui hadits atu nasihatnya.

WALLAHU'ALAMU BISSOWAB.....


Saturday, June 20, 2015

KETEGUHAN HATI NABI MUHAMMAD SAW. DALAM BERDAKWAH

Dakwah yang dilakukan Nabi Saw. secara terang-terangan ditentang dan ditolak oleh kaum quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka.

Pada saat itulah Rasulullah Saw. mengingatkan dan menasihati mereka tentang perlunya membebaskan akal dan pikiran mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Nabi Saw. bahwa tuhan-tuhan yang 
mereka sembah itu tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya sama sekali.

Tradisi nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tuhan itu tidak dapat dijadikan alasan kuat untuk diikuti, karena itu adalah taqlid buta. Firman Allah di ayat lain menggambarkan bagaimana jawaban mereka dan kerasnya penolakan mereka, (Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul." Mereka menjawab, "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya)." Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?)

Ketika Nabi Saw. mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi-mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta kepada nenek moyang mereka dalam menyembah berhala, mereka menentangnya dan sepakat untuk memusuhunya, kecuali pamannya Abu Thalib yang membelanya.(Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buti, Fiqhus Sirati, 1990: 72-73).

Sangat berat bukan rintangan Nabi Muhamad SAW dalam berdakwah, melalui hadits-Nya nabi seringkali mengingatkan kita agar selalu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.


Tuesday, June 16, 2015

PEMBAHASAN MENGENAI AYAT Al-QUR’AN YANG PERTAMA TURUN

Image result for gambar QUR'AN

Tidak akan ada habisnya kalau membahas Al-Qur'an, karena Al-Qur'an memiliki penjelasan-penjelasan yang sangat luas. begitu pula untuk penjelesan ayat yang pertama kali turun.Sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya ayat yang pertama kali turun dan diterima oleh nabi adalah surat Al-Alaq. 


Imam Al Wahidiberkata, “Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim al-Muqri telah 
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Abdullah bin Hamid al-Ashfahani telah
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Ahmad bin Muhammad bin Hasan alHafizh telah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Yahya
telah menceritakan kepadaku.” Ia berkata, “Abdurrazzaq telah menceritakan
kepada kami, dari Ma’mar, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, ia berkata, “Urwah telah
mengabarkan kepadaku, dari Aisyah bahwasanya ia berkata, ‘Permulaaan wahyu
yang datang kepada Rasulullah Saw.adalah berupa mimpi yang benar dalam tidur.
 
Dan tidaklah beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian
Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu beliau memilih Gua Hira
dan ber-tahannuts,yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya
sebelum, kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk
ber-tahannuts kembali. 
Kemudian beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal.
 
Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang menemui
beliau seraya berkata, ‘Bacalah?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Nabi
Saw.menjelaskan, ‘Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat,
kemudian melepaskanku dan berkata lagi, ‘Bacalah!’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak
bisa membaca.’ Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat= =
untuk ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian melepaskanku dan berkata
lagi, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanÅ (QS Al-Alaq, 96: 1),
sampai firman-Nya Ta’ala, Ä...Apa yang tidak diketahuinyaÅ(QS Al-Alaq,96 : 5),
 
Setelah itu beliau segera pulang dalam keadaan menggigil dan masuk menemui
Khadijah, beliau berkata, ’Selimutilah aku!’Khadijah menyelimutinya sehingga rasa
takutnya mulai berkurang, lalu beliau berkata, ‘Wahai Khadijah, ada apa denganku!
 
Dan beliau pun menceritakan apa yang terjadi, dan beliau berkata, ’Sungguh aku
takut akan diriku.’ maka Khadijah berkata kepadanya, ’Sekali-kali tidak! Demi
Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau adalah orang yang
senantiasa menyambung tali silatrurrahim, jujur dalam berbicara, meringankan
orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong dalam jalan
kebenaran’.”. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Yahya bin Bukair. Dan diriwayatkan
juga oleh Muslim dari Muhammad bin Rafi’, keduanya menerima dari Abdurrazzaq.
Imam Al Wahidiberkata, “Asy-Syarif Ismail bin Al Hasan bin Muhammad bin
Al Husain Ath Thabari telah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Kakekku Abu
Hamid Ahmad bin Al Hasan Al Hafizh telah mengabarkan kepada kami.” dia berkata,
“Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Sufyan bin
Uyainah telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Az Zuhri,
dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata, “Sesungguhnya ayat al-Qur’an yang pertama
turun adalah, ÄBacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanÅ (QS AlAlaq, 96: 1)
 
Diriwayatkan oleh Al Hakim Abu Abdullah di dalam Shahihnya, dari Abu Bakar
Ash Shabghi, dari Bisyr bin Musa, dari Al Humaidi, dari Sufyan.
Imam Al Wahidiberkata, “Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muqri telah
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Abu Al Hasan Ali bin Muhammad Al
Jurjanitelah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Nashr bin Muhammad Al
Hafizh telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Makhlad
telah mengabarkan kepada kami, bahwa Muhammad bin Ishaq telah menceritakan
kepada mereka, ia berkata, “Ya’qub Ad Dawraqitelah menceritakan kepada kami.” Ia
berkata, “Ahmad bin Nashr Ibnu Ziyad telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata,
“Ali bin Husain bin Waqid telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Ayahku
telah menceritakan kepadaku.” Ia berkata, “Yazid an-Nahwi telah menceritakan
kepadaku, dari Ikrimah dan Al Hasan, mereka berdua berkata, “Ayat al-Qur’an
yang pertama turun adalah ÄDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. 

Itulah ayat al-Qur’an yang pertama turun di Makkah, sedangkan surat
pertama yang turun adalah, Bacalah dengan nama TuhanmuÅ(QS Al-Alaq, 96: 1).
Imam Al Wahidiberkata, “Al Hasan bin Muhammad Al Farisitelah mengabarkan
kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Al Fadhl AtTajir telah
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan
Al Hafizh telah mengabarkan kepada kami
 
Ia berkata, “Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami.” Ia
berkata, “Abu Shaleh telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Al-Laits
telah menceritakan kepadaku.” Ia berkata, “Uqail telah menceritakan kepadaku,
dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Muhammad bin Ibad bin Ja’far al-Makhzumi telah
mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar sebagian ulama mereka berkata,
“Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya adalah, Bacalah dengan
nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar
manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
(QS Al-’Alaq, 96: 1-5). Inilah awal surat yang diturunkan kepada RasulullahSaw.
di Gua Hira, dan kemudian ayat terakhir dari surat tersebut diturunkan setelah itu
sesuai dengan kehendak Allah.
 
Adapun hadits shahih yang menerangkan bahwasanya su rat pertama yang
diturunkan itu surat al-Muddatstsir, adalah berdasarkan riwayat yang dikabarkan
kepada kami oleh Abu Ishaq Ats Tsa’alabi, ia berkata, “Abdullah bin Hamid telah
menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Ya’qub telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Ahmad bin Isa bin Zaid al-Bainasi telah
menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Amr bin Abi Salamah telah menceritakan
kepada kami, dari Al Awza’I, ia berkata, “Yahya bin Abi Katsir telah menceritakan
kepadaku. Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, “Ayat
al-Qur’an manakah yang diturunkan pertama kali?” Ia menjawab, Wahai orang
yang berselimut (QS Al-Muddatstsir, 74: 1). Aku berkata, “Atau mungkin, ’Bacalah
dengan nama Tuhanmu.’ (QS Al-’Alaq, 94: 1). Ia berkata, “Aku pernah bertanya
kepada Jabir bin Abdullah al-Anshari, ’Ayat Al-Qur’an manakah yang diturunkan
pertama kali?’ Ia menjawab, ÄWahai orang yang berselimut (QS Al-Muddatstsir,
74: 1). Aku berkata, ’Atau mungkin, ’Bacalah dengan nama Tuhanmu.’ (QS Al-’Alaq,
94: 1). Ia berkata, ’Aku menceritakan kepada kalian apa yang telah diceritakan oleh
RasulullahSaw.kepada kami, beliau bersabda, “Aku berdiam di Hira’ selama satu
bulan. Setelah selesai, aku pun turun.

Dan ketika aku tengah berada di tengah-tengah lembah, aku mendengar seseorang memanggilku, maka aku pun menoleh ke arah depan, belakang, dan ke arah kanan dan kiriku, lalu aku melihat ke langit dan ternyata ia tengah berada di atas sebuah alas duduk yang ada di udara –yakni Jibril-, aku menggigil dan segera menemui Khadijah. Aku meminta mereka untuk menyelimutiku dan mereka pun menyelimutiku dan menyiramkan air kepadaku, lalu Allah menurunkan kepadaku, Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu
berilah peringatan.” (QS Al-Muddatstsir, 74: 1-2). Diriwayatkan oleh Muslim dari
Zuhair bin Harb, dari Al Walid bin Muslim, dari Al Awza’i.
 
Riwayat ini tidaklah bertentangan dengan riwayat yang pertama karena Jabir
mendengar dari RasulullahSaw.bagian akhir dari kisahnya, dan ia tidak mendengar
bagian pertamanya, sehingga ia menyangka bahwa untuk ketiga kalinya sehingga
aku kepayahan, kemudian melepaskanku dan berkata lagi, Bacalah dengan
nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS Al-Alaq, 96: 1), sampai firman-Nya
Ta’ala, ...Apa yang tidak diketahuinya(QS Al-Alaq, 96: 5). Setelah itu beliau
segera pulang dalam keadaan menggigil dan masuk menemui Khadijah, beliau
berkata, ’Selimutilah aku!’ Khadijah menyelimutinya sehingga rasa takutnya mulai
berkurang, lalu beliau berkata, ‘Wahai Khadijah, ada apa denganku?’ Dan beliau
pun menceritakan apa yang terjadi, dan beliau berkata, ’Sungguh aku takut akan
diriku.’ Maka Khadijah berkata kepadanya, ’Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah
tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau adalah orang yang senantiasa
menyambung tali silatrurrahim, jujur dalam berbicara, meringankan orang yang
tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong dalam jalan kebenaran’.”.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Yahya bin Bukair. Diriwayatkan juga oleh Muslim
dari Muhammad bin Rafi’, keduanya menerima dari Abdurrazzaq.
 
Imam Al Wahidiberkata, “Asy-Syarif Ismail bin Al Hasan bin Muhammad bin
Al Husain Ath Thabari telah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Kakekku
Abu Hamid Ahmad bin Al Hasan Al Hafizh telah mengabarkan kepada kami.” Dia
berkata, “Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata,
“Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami, dari Muham mad bin Ishaq,
dari Az Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata, “Sesungguhnya ayat al-Qur’an
yang pertama turun adalah, Bacalah de ngan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS Al-’Alaq, 96: 1)
 
Diriwayatkan oleh Al Hakim Abu Abdullah di dalam Shahih-nya, dari Abu Bakar
Ash Shabghi, dari Bisyr bin Musa, dari Al Humaidi, dari Sufyan.
Imam Al Wahidiberkata, “Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muqri telah
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Abu Al Hasan Ali bin Muhammad Al
Jurjanitelah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Nashr bin Muhammad Al
Hafizh telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Makhlad
telah mengabarkan kepada kami, bahwa Muhammad bin Ishaq telah menceritakan
kepada mereka, ia berkata, “Ya’qub Ad Dawraqitelah menceritakan kepada kami.” Ia
berkata, “Ahmad bin Nashr Ibnu Ziyad telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata,
“Ali bin Husain bin Waqid telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Ayahku
telah menceritakan kepadaku.” Ia berkata, “Yazid an-Nahwi telah menceritakan
kepadaku, dari Ikrimah dan Al Hasan, mereka berdua berkata, “Ayat al-Qur’an
yang pertama turun adalah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.” Itulah ayat Al-Qur’an yang pertama turun di Mekah, sedangkan surat
pertama yang turun adalah, “Bacalah dengan nama Tuhanmu.” (QS Al-Alaq, 96: 1)
 
Imam Al Wahidiberkata, “Al Hasan bin Muhammad Al Farisitelah mengabarkan
kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Al Fadhl At-Tajir telah
mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan
Al Hafizh telah mengabarkan kepada kami Surah al-Muddatstsir adalah surah pertama yang diturunkan. Akan tetapi tidaklah demikian, melainkan surat al-Muddatstsir merupakan surat pertama yang turun setelah surat al-‘Alaq.
 
Dalil yang menguatkan pendapat ini adalah apa yang dikabarkan kepada kami oleh
Abu Abdurrahman bin Hamid, ia berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin
Zakariya telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, “Muhammad bin Abdurrahman
Ad Daghuli telah mengabarkan kepada kami.” Ia berkata, “Muhammad bin Yahya telah
menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada
kami.” Ia berkata, “Maamar telah menceritakan kepada kami, dari Az Zuhri, ia berkata,
“Abu Salamah bin Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku, dari Jabir, ia berkata,
“Aku pernah mendengar RasulullahSaw.bercerita tentang saat turunnya wahyu,
beliau bersabda, “Saat aku tengah berjalan, aku mendengar suara dari langit, dan aku
pun mengangkat kepalaku dan melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Hira,’
ia tengah duduk di atas kursi yang berada di antara langit dan bumi. Aku merasa
takut kepadanya. Maka aku segera pulang dan berkata, ’Selimutilah aku, selimutilah
aku.’ dan mereka pun menyelimutiku. Maka Allah menurunkan, “Wahai orang yang
berselimut.” (QS Al-Muddatstsir, 74: 1). Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abdullah
bin Muhammad. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Rafi’, keduanya
menerima dari Abdurrazzaq.
 
Dari hadits di atas terlihat jelas bahwa setelah turunnya ayat, “Bacalah dengan
nama Tuhanmu.” (QS Al-’Alaq, 94: 1), wahyu sempat terputus, dan kemudian barulah
turun ayat, “Wahai orang yang berselimut.” (QS Al-Muddatstsir, 74: 1). Dan ungkapan
yang menguatkan pendapat kami di sini adalah sabda Nabi Saw. bahwa “Malaikat yang
pernah mendatangi beliau di Goa Hira’ tengah duduk”, dan ini menunjukkan bahwa
peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat iqra.
 
Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad al-Muqri telah mengabarkan kepada kami, ia
berkata, “Abu Al Hasan Ali bin Muhammad al-Muqri telah mengabarkan kepada kami.” Ia
berkata, “Abu Syekh telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Ahmad bin Sulaiman
bin Ayyub telah menceritakan kepada kami.”Ia berkata, “Muhammad bin Ali bin Al Hasan
bin Sufyan telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Ali bin Al Husain bin Waqid
telah menceritakan kepada kami Ia berkata, “Ayahku telah menceritakan kepadaku.”
 
Ia berkata, “Aku pernah mendengar Ali bin Al Husain berkata, ’Surat pertama yang turun
kepada RasulullahSaw. di Mekah adalah, ’Bacalah dengan nama Tuhanmu.’ (QS Al-’Alaq,
94: 1), dan surat terakhir yang diturunkan kepada RasulullahSaw. di Mekah adalah surat
al-Mukminun, dan pendapat lain mengatakan surat Al-‘Ankabut. Dan surat pertama yang
turun di Madinah adalah Al-Muthaffifin, sedangkan surat terakhir yang turun di Madinah
adalah surat Bara’ah (At-Taubah). Dan surat pertama yang diajarkan oleh RasulullahSaw.

Di Mekah adalah surat An-Najm. Ayat yang paling keras ancamannya terhadap penghuni
neraka adalah firman-Nya, ’Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan kami
tambahkan kepadamu selain azab.‘ (QS An-Naba’, 78: 30), dan ayat yang paling memberi
harapan terhadap penganut tauhid adalah firman-Nya, ’Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni (dosa) karena mempersekutukannya (syirik), dan Dia mengampuni apa
(dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.’ (QS An-Nisa’, 4: 48). Dan
ayat terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.adalah firman-Nya, ÄDan takutlah
pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada AllahÅ (QS Al-Baqarah, 2: 281).
Setelah menerima ayat ini, Nabi Saw. hidup selama sembilan malam’.”



Begitulah kiranya penjelasan singkat dari ayat yang pertama kali turun, mudah-mudahan menjadi hikmah untuk kita semua, amiinnn.

HAKIKAT MELAKSANAKAN SHALAT


Image result for gambar orang sholat
Makna
yang dituju dengan melaksanakan shalat adalah mendirikan shalat dengan menunaikan fardu-fardunya.
Ad-Dahak berkata, dari Ibnu Abbas Ra., yang dimaksud dengan melaksanakn shalat adalah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan, kekhusyukan dan menghadap kiblat.

Qatadah berkata, yang dimaksud dengan melaksankan shalat adalah menjaga waktu-waktu, wudu', rukuk, dan sujudnya. Muqotil bin Hayyal berkata melaksanakan shalat adalah menjaga waktu-waktunya,  senantiasa menyempurnakan wudunya, menyempurnakan bacaan Al-Qur'an, tasyahud, dan shalawat kepada nabi Saw. Begitulah yang dimaksud dengan melaksanakan atau mendirikan shalat.

Ibnu Kasir berkata, "Di dalam banyak ayat Al-Qur'an, sering kali Allah Swt, menyandingkan shalat dan infak di dalamnya, hal itu tiada lain karena shalat semata-mata adalah hak Allah dan representasi seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya.

Ia termasuk kepada bentuk penegasan dan sanjungan seorang hamba terhadap-Nya, pengagungan dan penghambaan seorang hamba kepada-Nya. Sedangkan infak adalah representasi kebaikan terhadap sesama mahluk dengan memberikan manfaat kepada mereka sebisa mungkin. 

Orang-orang yang lebih diprioritaskan untuk mendapatkannya adalah kerabat terdekat, sanak famili, hamba sahaya kemudian orang asing."

Pengertian shalat di kalangan arabiyun maknanya adalah do'a, kemudian shalat digunakan dalam pengertian syariat yang berarti adanya rukuk, sujud dan gerakan-gerakan lain di waktu yang sudah ditentukan, dengan syarat yang harus dipenuhi, begitu juga sifat dan macam-macamnya.

Imam At-Tabari berpendapat bahwa orang yang melaksanakan shalat fardu menjadi terbuka segala permintaan dari amalan-amalannya yang kemudian dibalas pahala oleh Allah Swt., bahkan seiring dengan itu, tidak hanya terbukanya kebutuhan yang diminta kepada Allah tapi juga terbukanya kemungkinan dikabulkannya segala kebutuhan dan permintaan seseorang yang berdoa di saat melaksanakan shalat.

Di dalam kitab Hadits " Riyadus Salihin " 

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, "Sebaik baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya dan bergegas untuk berjuang dijalan Allah. Setiap kali mendengar suara musuh yang menakutkan atau begitu mengerikan, ia melompat ke atas pundak kudanya untuk mengharapkan kematian. 

Atau seorang laki-laki yang berada dalam kumpulan kambing yang berada di puncak gunung atau berada di pedalaman lembah ini, ia mendirikan salat, melaksanakan zakat, dan beribadah kepada Rabbnya sampai menemui ajalnya. Tidaklah ia disebut manusia kecuali dalam kebaikan." (HR Muslim)